Favorit

Selasa, 15 Februari 2011

Faktor – Faktor yang mempengaruhi perkembangan Individu

 Perkembanga merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan dari segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Perubahan suatu fungsi adalah disebabkan oleh pertumbuhan materiil yang memungkinkan adanya itu, disebabkan oleh karena perubahan tingkah laku hasil belajar.[1]
Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan prilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis didalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus tempuh.[2]
Ada beberapa aliran yang membahas mengenai perkembanga manusia diantaranya (a) Aliran Nativisme, (b) Aliran Empirisme, (c) Hukum Konvergensi.
Aliran nativisme berpendapat bahwa segala perkembangan itu telah ditentukan oleh faktor – faktor yang dibawa sejak lahir. Yang ditekan kan disini adalah bahwa pembawaan pada waktu lahir itulah yang menentukankan hasil perkembangan. Menurut aliran nativisme pendidikan tidak bisa mengubah sifat – sifat pembawaan.
Aliran Empirisme mempunyai   pendapat yang berlawanan dengan kaum Netivisme. Mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterima sajak kecil. Manusia dapat dididik menjadi apa saja ( kearah yang baik maupun kearah yang buruk )
Hukum konfergensi yang berasal dari William Strem berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua – duanya menentukan perkembangan manusia.[3]
Dibawah ini akan dipaparkan Faktor – Faktor yang mempengaruhi perkembangan Individu sebagai berikut :

A.      Faktor Luar ( Eksternal )
Faktor luar yang mempengaruhi perkembangan individu dibagi menjadi dua macam yaitu faktor lingkungan Nonsosial atau fisik dan faktor lingkunagan sosial
a.      Fisik
Yang dimaksud faktor fisik disini adalah lingkungan yang perupa fisik yang ada disekitar  seperti cuaca, iklim geografis, keadaan alam atau keadaan rumah di individu.[4]
1.    Cuaca, iklim
Cuaca, iklim akan dapat mempengaruhi perkembangan indifidu dalam proses belajar, misalnya iklim yang terlalu panas akan mempengaruhi kegairahan belajar. Sebaliknya tempat yang sepi dengan iklim yang sejuk akan menunjang proses belajar.[5]

2.    Geografis atau keadaaan alam atau keadaan rumah
Letak geografis atau keadaan alam atau keadaan rumah juga dapat mempengaruhi perkembangan individu. Misalnya bila bangunan rumah penduduk sangat rapat maka akan mempengaruhi ketenangan dan kosentarasi dalam belajar, sebaliknya apabila keadaan rumah penduduk tidak rapat maka akan menambah semangat belajar karena adanya rasa nyaman dan adanya suasana yang tenang.
b.     Sosial
Lingkung sosial seperti keluarga masyarakat dan sekolah sangat berpegaruh terhadap perkembangan indifidu. Lingkungan yang baik akan memberikan dorongan kepada individu untuk berbuat baik, sebaliknya lingkungan yang buruk akan mendorong individu untuk melakukan perbuatan buruk pula.
1.     Keluarga
Lingkungan sisial yang lebih banyak berpengaruh terhadap perkembangan individu adalah lingkungan keluarga. Sifat – sifat kedua orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, demongrafi keluarga ( letak rumah ) semuanya akan dapat memberikan dampak baik maupun buruk terhadap individu dalam belajar. Contoh kebiasaan yang diterapkan orang tua dalam memngelola keluarga ( family management practices ) yang keliru, seperti kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak dapat memberikan dampak yang buruk terhadap anak tersebut. Dalam hal ini bukan saja anak tidak mau belajar melainkan ia juga cenderung berprilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang berat seperti anti sosial ( patterson dan loeber, 1984 )
  
2.     Masyarakat
Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial adalah masyarakat. Kondisi masyarakat yang kumuh yang serba kekurangan akan sangat mempengaruhi aktifitas dan semangat belajar siswa. Paling tidak siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika meminjam alat – alat belajar tertentu yang belum dimilikinya dan akan mengurangi motivasi belajarnya.
Jika masyarakan disekitar terdiri dari orang – orang yang berpendidikan, hal ini akan mendorong lebih giat belajar bagi siswa.

3.     Sekolah
Kedaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi perkembangan  individu. Kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasiltas belajar, keadaan ruangan, jumlah siswa perkelas, pelaksanaan tata tertip sekolah, itu semua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan individu.

B.       Faktor Dalam
a.         Psikologis.
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan individu. Namun faktor psikologis yang umum yang dipandang lebih esensial adalah 1) tingkat kecerdasan / inteligensi; 2) Sikap 3) Minat 4) Motivasi.
1.         Inteligensi
Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dangan cara yang tepat. ( Reber, 1988 ). Jadi sebenarnya intelejensi bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ – organ tubuh lainnya.
Tingkat kecerdasan atau inteligensi siswa tidak dapat diragukan lagi sangat menentukan tingkat keberhasilan dan perkembangan individu. Ini bemakna semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa akan semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi semakin kecil peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi intelegensi seseorang adalah:
a)      Pembawaan
b)      Kematangan
c)      Pembentukan ( segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi )
d)     Minat dan pembawaan yang khas
e)      Kebebasan

2.         Sikap
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afaktif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau memperoses dengan cara yang relatif tepat terhadap objek orang, barang dan sebagainya baik secara positif ataupun negatif. Sikap siswa yang positif tertama pada penganjar dan mata pelajaran yang diajarkan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tesebut. Sebaliknya sikap negatif siswa terhadap pengajar dan materi pelajaran adapat menimbulkan kesulitan belajar siswa trsebut apalagi jika diiringi kebencian terhadap pengajar dan mata pelajaran yang diajarkan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa seperti tersebut diatas, guru dituntut untuk terlibat dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajaran yang menjadi vaknya. Dalam hal bersikap posistif terhadap mata pelajarannya, seorang guru sangat dianjurkan untuk senantiasa mengargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian tidak hanya menguasai bahan – bahan yang terdapat dalam bidang studynya, tetapi juga mampu menyakinkan kepada para siswa tentang manfaan study itu bagi kehidupan mereka. Dengan meyakini manfaat bidang study tertentu, siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari perasaan butuh itulah diharapkan muncul positif terhadap bidang study tersebut sekaligus terhadap guru yang mengajarnya.
    
3.         Bakat
Secara umum bakat ( aptitude ) kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang ( Chaplin, 1972; Reber 1988 ). Dengan demikian sebenarnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing – masing. Jadi secara global bakat itu mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang mempunyai intelijensi tinggi ( superior ) disebut juga talented child, yakni anak berbakat.
Dalam perkembangan selanjutnya bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tampa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan pelatihan.seseorang yang berbakat dalam bidang elektro misalnya, akan jauh lebih cepat menyerap informasi, pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya. Inilah yang kemudian disebut bakat khusus ( specific aptitude ) yang kono tidak dapat dipelajarai yang merupakan karunia inborm ( pembawaan sejak lahir )[6]

4.         Minat
Secara sederhana minat dapat diartikan kecenderungandan kegairahan  yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber ( 1988 ), minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor – faktor internal lainnya misalnya motivasi, keingintahuan, dan kebutuhan.
Namun terlepas dari itu, minat seperti yang difahami yang dipakai orang selama ini  dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang study tertentu. Umpamanya siswa yang menaruh minat yang besar terhadap pelajaran matematikan akan lebih memusatkan perhatianya terhadap pelajaran itu dibanding dengan orang lain.[7]

5.         Motifasi
Pengertia dasar motivasi adalah keadaan internal individu yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini motivasi berarti pemasok daya ( energizer ) untuk bertingkah laku secara terarah ( Gleitman, 1986; Reber 1988 ).
Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dibagi menjadi dua macam yaitu : 1) Motivasi Intrinsik; 2) Motivasi Ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Termasuk dalam motivasi intrinsik adalah perasaan menyenangi materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.
Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal atau keadaan yang datang dari luar individu yang dapat mendorong untuk melakukan belajar. Pujian,  hadia, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya merupakan contoh kongkrit motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Kekurangan dan ketiadaan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik akan menyebabkan kurang semangatnya siswa dalam proses belajar baik di sekolah maupun dirumah.   

b.        Sifat keturunan / Hereditas
Masing – masing individu lahir didunia ini dengan suatu hereditas tertentu. Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari orang tunnya. Peristiwa ini terjadi melalui proses genetis. Setiap perkembangan pribadi seseorang merupakan hasil interaksi antara hereditas dan ligkungan.
Hereditas sangant berpengaruh terhadap proses perkembangan individu. Seseorang dari keturunan berpendidikan akan cenderung menjadi orang yang berpendidikan dibanding seseorang dari keturunan orang yang tidak berpendidikan.


[1] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan ( Jakarta : PT. Rineka Cipta 1998 ) hlm. 57
[2] Sunarto, B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik ( Jakarta : PT. Rineka Cipta 1999) hlm. 43
[3] M. Ngalim Purwanto, Pesikologi Pendidikan ( Jakarta :                            1990 ) hlm.14
[4] Muhibbin Syah, Psikologi belajar ( Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada 2006 ) hlm. 152
[5] Anwar Bey Hasibuan, Psikologi Pendidikan ( Medan : Pustaka Widiyasarana 1994 ) hlm. 42
[6] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar ( Jakarta : PT. Jayagrafindo Persada 2006 ) hlm. 150
[7] Ibid, Psikologi Balajar hlm. 151

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


ShoutMix chat widget